Sudah menjadi kebiasaan, sekian hari menjelang hari Lebaran sampai sekian hari sesudah Lebaran, pemudik akan beramai-ramai meninggalkan kota yang selama ini menjadi tempat untuk mencari nafkah menuju kampung halamannya. Jumlah pemudik yang tidak sedikit akan memenuhi jalan-jalan raya di sepanjang pulau Jawa, baik di jalur pantai utara maupun jalur pantai selatan.
Seorang rekan wartawan dari sebuah majalah otomotif baru-baru ini mengirimkan email, yang berisi beberapa pertanyaan wawancara mengenai kesiapan radio dalam menyampaikan liputan mengenai arus mudik dan arus balik. Pertanyaan-pertanyaan dalam email itu memicu munculnya pertanyaan di benak saya “Masih perlukah sebuah radio menyiarkan informasi kepadatan arus mudik dan arus balik?”.
Kondisi yang rutin terjadi setiap tahun, tentunya bukan lagi hal yang mengherankan. Apa yang harus dilakukan radio agar informasi lokalnya bisa menjadi lebih bermanfaat? Apalagi kondisi yang terjadi adalah:
- Kemacetan sudah biasa terjadi sepanjang arus mudik dan balik. Sebagai pembanding, apakah akan menjadi informasi yang menarik jika kita melaporkan kemacetan di sebuah ruas jalan yang memang setiap hari terjadi? Justru sebaliknya akan menjadi berita kalau jalan yang biasanya macet suatu saat tidak macet.
- Televisi dan media cetak banyak yang sudah menginformasikan daerah-daerah rawan macet, termasuk jalan-jalan alternatif yang bisa dilalui
- Sumber informasi diluar media konvensional semakin beragam, mulai dari leaflet peta dan panduan mudik yang disebar oleh berbagai organisasi dan produk, layanan sms, petugas polisi dan volunteer di lapangan, papan petunjuk jalan dan lain sebagainya.
- Bagi mereka yang biasa mudik, sudah mengetahui daerah atau jalanan yang biasa mereka lalui setiap tahun.
Namun demikian, bukan berarti radio tidak perlu memberikan informasi berkaitan dengan tradisi mudik. Yang bisa dilakukan radio diantaranya adalah:
- memberikan siaran yang menghibur bagi mereka yang melalui atau singgah di kota kita.
- memberikan informasi lalu lintas yang tidak biasa terjadi, seperti kecelakaan, perubahan jalur dan lain sebagainya. Jangan hanya menginformasikan kepadatan arus lalu lintas, karena selama arus mudik dan balik, hal ini adalah hal biasa yang sudah diketahui oleh pendengar.
- memberikan informasi tempat wisata, tempat istirahat dan lain sebagainya yang lebih bermanfaat bagi pendengar.
- dan berbagai ide informasi dan program kreatif lainnya.
Perlu juga dipertimbangkan, bahwa pada saat Lebaran tiba, biasanya banyak crew (apalagi radio di kota besar) yang sudah mengagendakan untuk libur atau mengambil cuti berdekatan dengan Lebaran. Sehingga pengaturan jadual siaran Lebaran pun menjadi tantangan tersendiri bagi seorang manager siaran. Demikian juga saat menugaskan team peliputan, biasanya harus dikeluarkan dana tambahan bagi mereka. Maklum, pada saat rekan-rekan lain menikmati liburan, mereka tetap harus bertugas.
Akan lebih meringankan beban perusahaan jika ada sponsor yang bisa mendanai liputan arus mudik dan balik. Jika tidak ada sponsor, kita tidak perlu memaksakan diri karena liputan arus mudik dan balik bukanlah satu-satunya cara untuk mengikat pendengar.
R S S




“Masih perlukah sebuah radio menyiarkan informasi kepadatan arus mudik dan arus balik?”
Pertanyaan menarik mas, secara saat ini lagi trend “Me too” di media2 Indonesia. Padahal kalau berpikir realistis plus kreatif, kita bisa melakukan banyak hal lain ya..
BTW, mas email saya gak masalah tuh. Coba deh ke jafmail[at]gmail.com aja
kalau saya sih senang ada laporan mudik di radio, kalau di jawa timur radio suara surabaya itu top bgt, meski kadang bete juga karena terlampau banyak laporannya
Selamat mudik…. semoga perjalanan anda menyenangkan.
Bila ingin istirahat di Semarang, silahkan singgah di WISMA SAKINAH - Comfortable Home Stay & Guest House at Semarang.
Jl. Kumudasmoro Barat No. 24 Semarang, Phone 024-7623460
Pls visit : http://wisma-sakinah.com