Baru-baru ini saya membuka-buka website Reporters Without Borders yang berjuang untuk mewujudkan kebebasan pers, baik media cetak, televisi, radio maupun internet. Dalam website ini banyak ditemukan data tentang kekerasan terhadap pers. Website ini mengingatkan betapa kerasnya upaya yang harus ditempuh untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Melihat perjuangan dan pengorbanan rekan-rekan jurnalis di seluruh dunia, seharusnya kita malu jika masih ada jurnalis Indonesia yang masih
menerima amplop dan masih ada reporter radio yang tidak menunjukkan profesionalisme dan semangat juang yang tinggi. Banyak diantara reporter kita yang tidak serius saat mendapat tugas ringan meliput suatu kejadian di dalam kota yang jauh dari konflik. Wawancara dan proses produksi tidak dilakukan dengan maksimal. Padahal banyak rekan-rekan seprofesi yang harus mendekam dalam penjara atau bahkan terbunuh saat bertugas.
Data dari Reporters Without Borders menunjukkan dari tahun ke tahun jumlah jurnalis yang terbunuh mengalami peningkatan:
Jurnalis yang terbunuh hingga awal 2008:
|
Tahun |
Jumlah (orang) |
Lokasi Kejadian (terbanyak) |
|
2008 |
10 |
Iraq (5) |
|
2007 |
87 |
Iraq (47) Somalia (8 ) Pakistan (6) |
|
2006 |
85 |
Iraq (41) Mexico (9) Filipina (6) Indonesia (1) Herliyanto – Radar Surabaya (29/04/2006) |
|
2005 |
64 |
Iraq (25) Filipina (7) |
|
2004 |
62 |
Iraq (28 ) Filipina (6) Bangladesh (4) |
|
2003 |
40 |
Iraq (12) Filipina (7) Columbia (4) Indonesia (2) Mohammad Jamaluddin – TVRI (17/06/2003) dan Ersa Siregar – RCTI (29/12/2003) |
|
2002 |
25 |
Rusia (4) Filipina (3) Columbia (3) |

Jurnalis yang dipenjara
Hingga saat ini Reporters Without Borders mencatat 129 orang jurnalis dipenjara. Negara yang banyak memenjarakan jurnalis adalah China (31), Cuba (23), Eritrea (16). Sedangkan di Indonesia nama yang muncul adalah Risang Bima Wijaya – Radar Jogja.







0 Tanggapan ke “Stop Killing Journalist”