Ditulis oleh: Yoghie Riezaldi
Sebenarnya semua mahluk di bumi ini tahu persis kalau kejujuran itu sangatlah penting. Semua tahu bahwa kejujuran adalah modal utama untuk mendapatkan kepercayaan, semua juga tahu kalau kejujuran sangat mempengaruhi pola pikir kita. Namun meskipun semua tahu kejujuran begitu mahal dan berharga, seringkali orang melupakan kekuatan dari kejujuran. Akhirnya mereka terjerembab bahkan mati oleh fakta kekuatan kejujuran ini. Kejujuran bukan hanya berkutat pada dunia keagamaan saja, namun dalam dunia broadcasting pun kejujuran tetap menjadi sesuatu yang primer.
Bagaimana jadinya jika secara accidental seorang announcer tertidur saat dia harus ke studio untuk on air. Si announcer bangun karena sang aanager menelponnya. Jelas ini menunjukkan buruknya “prepare” dalam pekerjaan. Kasus akan berkembang lagi jika si announcer merasa ketakutan terhadap kesalahan yg diperbuatnya, maka saat ditanya managernya tentang alasan keterlambatannya, si announcer asal menjawab demi keamanan agar terhindar dari kesalahan.
Faktor pengembangan situasi yang diluar dugaan inilah yang akan semakin membuat runyamnya suatu masalah. Peristiwa yang seharusnya sudah selesai dengan sebuah pengakuan, namun dengan menceritakan sesuatu yang tidak berdasarkan fakta justru akan membuat suasana jadi semakin keruh. Disinilah dibutuhkan suatu karakter lurus untuk berani mengakui sebuah kesalahan yang telah diperbuat. Karena dengan berani mengakui sebuah kesalahan berarti kita telah membangun jembatan agar diri kita selamat. Tentunya semua kesalahan harus ada resiko dan sangsi, namun jika kesalahan itu diikuti dengan kepalsuan, maka sangsi yang dimunculkan juga pastinya akan menjadi semakin berat. Kesalahan pertama adalah berbuat kesalahan masih ditambah dengan kesalahan kedua yaitu berbohong.
Saat dunia yang penuh persaingan semakin ketat, dewa dewi kejujuran semakin ketat juga untuk memilih siapa yang pantas mereka hampiri.
author says: mengambil kata-kata leonard,”jika kita berbohong, kita akan membuat kebohongan lagi untuk menutupi kebohongan kita sebelumnya dan begitu seterusnya.”
artinya, sekali berbohong kita akan terjerat dalam lingkaran kebohongan untuk berbohong, berbohong dan berbohong lagi.










0 Tanggapan ke “Dewa Dewi Kejujuran”