11 April 2008 lalu, Roy Suryo dan komunitas blogger mengadakan dialog di Universitas Budi Luhur Jakarta. Memang dialog ini tidak banyak membicarakan kepentingan bangsa dan negara. Saya baru tertarik ketika membaca posting sejumlah rekan yang hadir dalam acara itu seperti:
Yang menarik perhatian saya, adalah statement Roy Suryo yang antara lain berbunyi:
Secara umum argumentasi dasar Roy adalah pers yang salah dalam mengutip pernyataanya. Salah satu contohnya pernyataan tentang Blogger tukang tipu. Penjelasan Roy sebenarnya panjang lebar tentang Blogger dan tidak semuanya jelek, cuma diakhir pernyataan dia memang bilang ada Blogger yang jadi tukang tipu. Nah lantas media mengutip hanya bagian akhirnya saja, sehingga mengundang reaksi dari para Blogger.
Ketika disanggah oleh Riyo bahwa wartawan sekelas Kompas dan Tempo kecil kemungkinannya untuk salah mengutip. Roy mengatakan bahwa ia orang yang apa adanya, jika A dia katakan A, jika B dia katakan B, dan dia bertanggung jawab dengan semua pernyataanya itu.
Nampaknya setelah bersitegang dengan blogger, sekarang Roy Suryo mencoba menembak media dan jurnalis, yang selama ini telah banyak berperan membesarkan namanya. Menurut Roy, situasi menjadi runyam karena wartawan salah kutip dan ada juga yang mengutip hanya sebagian dari statement nya sehingga menimbulkan salah pengertian para blogger.
Belajar dari pengalaman ini, bisa dilihat betapa pentingnya untuk menyimpan rekaman hasil wawancara dengan narasumber, meskipun telah disiarkan. Apalagi untuk wawancara-wawancara yang dinilai riskan atau memiliki kemungkinan menimbulkan konflik. Sehingga jika suatu saat terjadi masalah, kita masih memiliki bukti dan tidak dijadikan kambing hitam oleh narasumber pada saat mereka terpojok.
Klik disini untuk membaca lebih lanjut kampanye “Jangan kutip Roy Suryo”






Maaf saya juga orang media tapi saya setuju dengan apa yang dibilang mas Roy. Kebetulan saya punya usaha sendiri dan kebetulan juga bekerja di sebuah radio swasta. Beberapa saya mendapati teman-teman wartawan “kurang teliti” saat mengutip dari narasumber. Bahkan saya sendiri pernah menjadi “korban”nya. Apa yang akhirnya mereka tulis di media ternyata tidak sesuai dengan apa yang sudah saya sampaikan. Kadang ada yang dikurangi (yang berpengaruh pada isi materi). kadang juga salah menyimpulkan alias sak karepe dewe dalam menyimpulkan.Sangat menyebalkan. Makanya saya sangat memaklumi dan sependapat kalo mas Roy menganggap wartawan salah kutip.(memangnya wartawan gak bisa salah ?)
Tapi saya sependapat mengenai pentingnya menyimpan hasil wawancara dalam bentuk rekaman. Dari situ bisa di cek dan recek kalau terjadi kasus seperti Roy Suryo. Kalau hanya dalam bentuk tulisan yaaa gak bisalah si wartawan ngotot dirinya bener…Kecuali ada bukti dalam bentuk rekaman.
Maaf ini sekedar pendapat pribadi yang juga berdasarkan pengalaman pribadi.Tidak lebih.
Salam sukses.