Kita pasti mengenal kisah kura-kura yang sering didongengkan pada saat kecil. Salah satu dongeng tentang kura-kura yang kita kenal adalah lomba lari antara kura-kura dan kelinci. Kura-kura seringkali dipandang sebelah mata karena geraknya yang lambat. Kita pun sering menyebut orang yang lamban seperti kura-kura.
Namun jangan salah, kura-kura bisa memenangkan lomba lari melawan kelinci karena kemampuannya berstrategi dan keberhasilannya mengkoordinasi sebuah team work untuk mencapai garis finish pada waktunya.
Kelinci, dia memiliki kemampuan untuk berlari dengan cepat, hanya sayang dalam dongeng dia tidak memutar otak untuk sedikit berstrategi dan hanya mengandalkan kemampuannya untuk mencapai garis finish.
Kemampuan yang prima dan percaya diri yang tinggi saja tidak cukup untuk mencapai tujuan akhir. Dengan strategi yang jitu dan team work yang solid, justru kita tidak perlu menghabiskan tenaga untuk mencapai hasil akhir yang maksimal. Kuncinya ada di kemampuan, kemauan, strategi dan team work.
Seorang teman berkata ‘lebih baik jadi kura-kura, biar lambat tapi masih lumayan bisa maju.’
Memangnya ada yang lebih parah dari kura-kura? ADA!
Menurut dia yang lebih parah dari kura-kura adalah BATU! Sudah keras, tidak maju-maju.
Seringkali kita menjumpai crew yang keras kepala dan susah diajak maju. Bahkan kita pun kadang tidak menyadari kalau sedang berubah wujud menjadi batu, yang maunya sendiri. Batu yang keras, tidak akan pernah bisa maju dan kalau dibiarkan justru menjadi sandungan bagi anggota team yang lain.
Hati-hati kalau sudah membatu. Batu yang keras dan tidak maju-maju, biasanya harus dibuang ke pinggir agar tidak bikin orang yang mau lewat tersandung.










0 Tanggapan ke “Kisah kura – kura dan batu”