Empathy (noun) : understanding and entering into another’s feelings
12 Februari 2008 pagi saya mendarat di Surabaya. Perjalanan ke kantor dilanjutkan dengan menggunakan taxi melewati padatnya lalu lintas yang sudah biasa terjadi menjelang jam kantor. Tidak beda dengan kota-kota lain, mulai dari Jakarta, Bandung, Solo, Jogja, hingga kota-kota yang lebih kecil seperti Magelang, Klaten dan lain sebagainya, situasi lalu lintasnya sama, semrawut.
Dulu, saat berkendara kita berhati-hati menjaga diri supaya tidak menabrak pengguna jalan yang lain. Sekarang kita tidak cukup hanya menjaga diri kita sendiri, tapi kita juga harus menjaga agar orang lain tidak menabrak kita.
Sepeda motor yang populasinya makin banyak, menguasai jalanan mulai dari sisi kiri hingga ke tengah jalan, bahkan berjalan diantara mobil tanpa ada ketakutan tertabrak. Mobil pindah jalur tanpa memberi tanda, masuk jalan raya tanpa tengok kiri-kanan, dengan santai memotong jalur mobil yang lain, berjalan pelan di lajur kanan dan berbagai kekacauan lainnya. Sampai-sampai ada ambulance yang sirenenya meraung-raung minta diberi jalan, tidak dipedulikan.
Semua orang punya keinginan yang sama, ingin cepat sampai tanpa mempedullikan orang lain. Seakan kita hidup sendiri dan lupa kalau banyak orang disekitar kita. Empati sepertinya mulai dilupakan dan ‘aku’sentris menjadi semakin kuat.
Kebiasaan ini akan berbahaya jika sampai dibawa kedalam budaya kerja radio kita. Sering terjadi ada penyiar, staff atau reporter yang ijin mendadak tanpa memikirkan siapa yang akan menggantikannya mengerjakan tugas, keberatan menggantikan tugas crew lain yang sakit, atau setengah hati menjalankan proyek yang diambil dari ide crew lain. Belum lagi konflik vertikal antara bawahan – atasan yang seringkali muncul karena tidak adanya upaya untuk saling memahami apa yang menjadi keinginan dan kesulitan masing-masing pihak.
Sebenarnya dengan sedikit empati, konflik bisa diredam dan kita tidak perlu buang energi hanya untuk ‘emosi’.
benefits of empathy
- Empathy connects people together
Saat kita berempati pada seseorang, tanpa disadari kita sudah membangun koneksi dengannya. Empati yang kita berikan akan membuatnya merasa kuat dan tidak sendirian. Dengan memberikan empati, pada akhirnya kita juga akan mendapatkan empati dari orang disekitar kita.
- Empathy heals
Empati bisa menjadi terapi untuk memotivasi diri kita sendiri. Pada saat kita memberikan empati melalui kepedulian kepada seseorang, kita sedang berusaha untuk menyembuhkannya dari kesulitan yang sedang dihadapinya. Secara tidak langsung kita juga mendorong diri kita untuk menjadi mampu menghadapi masalah yang sama.
- Empathy builds trust
Empati yang diberikan pada saat yang tidak tepat atau saat tidak diharapkan, pada awalnya bisa saja menimbulkan pertanyaan atau bahkan kecurigaan. Tapi jangan takut dan jangan mundur. Jika kita memberikan empati secara terus menerus dan dengan kesungguhan, maka orang akan menghargai perhatian kita, yang berujung pada terbangunnya sebuah kepercayaan.
- Empathy closes the loop
Seringkali tanpa disadari kita mengatakan atau melakukan sesuatu yang orang lain tidak suka. Sebaliknya, perlakuan yang sama juga pernah kita rasakan. Dengan empati, kita bisa menemukan cara untuk bisa berkomunikasi dengan baik tanpa saling menimbulkan ketersinggungan. Kita akan menjadi saling tau apa yang seharusnya dikatakan atau dilakukan. Tidak akan ada lagi saling menyinggung atau menyakiti.
Tanpa adanya empati, tidak akan ada team work yang kokoh dan berhasil. Mulailah ber-empati, mulailah dari diri kita sendiri.










0 Tanggapan ke “Kehilangan Empati”